Beranda Uncategorized MENGELOLA SDA: KAPITALISME & SOSIALISME GAGAL, ISLAM KAFFAH SOLUSINYA

MENGELOLA SDA: KAPITALISME & SOSIALISME GAGAL, ISLAM KAFFAH SOLUSINYA

9

📌 MENGELOLA SDA: KAPITALISME & SOSIALISME GAGAL, ISLAM KAFFAH SOLUSINYA

Pernahkah kita berpikir, mengapa negeri yang kaya sumber daya alam justru banyak yang rakyatnya miskin, lingkungannya rusak, bahkan terjerat utang⁉️

*_Faktanya, ini bukan kebetulan. Masalahnya ada pada sistem yang dipakai untuk mengelola kekayaan itu._*

*Kapitalisme: Pasar Bebas, Rakyat Tersingkir*

Bayangin nih… kita *punya keluarga besar*. Rumahnya luas, tanahnya subur, sumurnya penuh air bersih, ladangnya hijau, ada kebun buah dan tambang emas di belakang rumah.

Tapi… orang tua di keluarga ini memilih *“nggak mau ikut campur”*, kedepan smua sumber daya yang berlimpah tadi itu akan dimiliki anak yang mana bahkan gak kepikiran juga gimana biar adil, soalnya bagi orang tua dengan mindset ini. Siapa yang paling gesit, punya otot atau punya modal, dialah yang kuasai semua. Anak yang kuat dan punya koneksi bisa punya tiga ladang, lima sumur, dan semua ternak.

Anak yang lemah? Disuruh “usaha sendiri” padahal dari awal mereka nggak punya akses sama sekali. Mau ambil air sumur saja harus bayar mahal ke “anak konglomerat” tadi.

Nah, *inilah logika kapitalisme* kalau diterapkan ke negara:

Negara *melepas* pengelolaan sumber daya alam (SDA) ke mekanisme pasar dan perusahaan besar. Semua berlomba cari untung, tanpa peduli apakah rakyat biasa kebagian manfaat atau tidak.

*Hasilnya? Bisa ditebak:*

*1️⃣ Kekayaan menumpuk di segelintir orang*

Data Oxfam (2023) menunjukkan *1% orang terkaya dunia menguasai hampir setengah kekayaan global.* SDA yang mestinya milik rakyat malah jadi “ATM pribadi” para pemilik modal besar.

*2️⃣ Kerusakan lingkungan di mana-mana*

Demi untung cepat, banyak perusahaan eksploitasi SDA tanpa peduli kelestarian. Hutan gundul, tanah tandus, air tercemar. Akhirnya, rakyat yang tinggal di sekitar malah kena dampak paling parah.

*3️⃣ Rakyat di daerah kaya SDA justru miskin*

Fenomena ini disebut resource curse atau kutukan SDA.

Negara seperti Republik Demokratik Kongo punya cadangan mineral senilai *triliunan dolar*, tapi *73,5% rakyatnya hidup di bawah US$2,15/hari (Bank Dunia)*. Sama aja kayak keluarga kaya raya tapi anak-anaknya nggak bisa makan.

*Contoh Nyata: Niger Delta, Nigeria*

Niger Delta itu daerah superkaya minyak, jadi pusat produksi minyak Nigeria selama puluhan tahun.

Tapi… kenyataannya bikin miris:

1. *Air & tanah tercemar berat (laporan UNEP 2011)* akibat ribuan tumpahan minyak.

2. *Lebih dari 9.000 insiden tumpahan minyak dalam 10 tahun*—membunuh ikan, tanaman, dan meracuni air minum.

3. Studi medis menemukan *angka kematian bayi naik 100% di wilayah sekitar tumpahan minyak*. Bayi yang seharusnya lahir sehat, malah kehilangan nyawa karena polusi.

4. Kekayaan menumpuk di segelintir orang. Menurut laporan Oxfam (2023), *1% orang terkaya Indonesia menguasai 50,3% kekayaan nasional.* Bahkan 4 orang terkaya Indonesia kekayaannya setara dengan 100 juta orang termiskin di negeri ini.

5. Kerusakan lingkungan di mana-mana. Deforestasi: *Indonesia kehilangan rata-rata 1,47 juta hektare hutan tiap tahun (Kementerian LHK, 2015-2020).* Tambang batu bara: Data JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) menyebut lebih dari 3.000 lubang tambang dibiarkan menganga di Kalimantan & Sumatera, mencemari air dan memakan korban jiwa.

6. Rakyat di daerah kaya SDA justru miskin. *Papua punya cadangan emas raksasa di Grasberg*, salah satu tambang emas terbesar di dunia, *tapi angka kemiskinan 26,8% (BPS 2023) — tertinggi di Indonesia.* Kalimantan Timur jadi pusat produksi batu bara nasional, tapi masih ada desa-desa tanpa listrik dan akses air bersih.

7. Contoh *Nyata di Indonesia:* *Blok Cepu (Jawa Tengah & Jawa Timur):* Cadangan minyaknya besar, tapi sebagian besar keuntungan mengalir ke perusahaan asing dan pusat. Daerah penghasil tetap banyak yang kesulitan air bersih dan jalan layak. *Freeport di Papua:* Sudah puluhan tahun beroperasi, kontribusi ke APBN memang besar, tapi kerusakan lingkungan masif dan kesenjangan sosial tetap tinggi. Warga asli banyak yang belum menikmati fasilitas pendidikan dan kesehatan layak.

> *Siapa yang kaya? Perusahaan multinasional & elit politik. Siapa yang sengsara? Warga lokal yang tanahnya jadi sumber minyak itu sendiri.*

*Intinya…*

_*Kapitalisme itu seperti orang tua yang biarin anaknya rebutan harta keluarga._* Yang kuat makin kaya, yang lemah makin tersingkir. Rakyat cuma jadi penonton di tanahnya sendiri. Alam rusak, kesenjangan makin lebar, dan keadilan? Tinggal cerita.

*Sosialisme: Semua Dipegang Negara, Rakyat Tercekik*

Kalau kapitalisme itu kayak orang tua di keluarga besar yang nggak mau ikut campur, sosialisme itu kebalikannya: orang tua pegang semua *kendali penuh.*

Bayangin… semua aset keluarga—sumur, ladang, ternak, kebun—semuanya dipegang ortu. Anak-anak dilarang punya sendiri. Tiap bulan ortu yang bagi rata hasilnya, nggak peduli siapa yang rajin kerja atau siapa yang males.

*Awalnya sih kelihatan adil*: semua dapat bagian sama.

*Tapi lama-lama:*

🆘 Anak *yang rajin kerja jadi males* karena hasilnya tetap sama.

🆘 Anak *yang kreatif jadi frustrasi* karena idenya nggak pernah dipakai.

🆘 Kalau ortu *salah ambil keputusan*, satu keluarga bisa *kelaparan bareng-bareng.*

Nah, begitulah *sosialisme kalau dijalankan di level negara.*

*Masalahnya di Dunia Nyata:*

*1️⃣ Inovasi & produktivitas merosot.* Karena semua dibagi rata tanpa melihat kontribusi, semangat berinovasi hilang. Ekonomi jadi stagnan.

*2️⃣ Kesalahan kebijakan = bencana nasional.* Karena semua keputusan terpusat, satu kebijakan keliru bisa menghancurkan seluruh sistem.

*3️⃣ Rakyat jadi tergantung negara.* Masyarakat terbiasa menunggu jatah daripada menciptakan nilai tambah sendiri.

*Fakta Global: Bencana Laut Aral di Era Soviet*

1. Uni Soviet menerapkan kontrol penuh terhadap lahan & air untuk proyek irigasi besar demi produksi kapas. Akibatnya? Salah satu danau terbesar dunia, Laut Aral, menyusut hingga 90%.

2. Ekosistem hancur, ribuan nelayan kehilangan pekerjaan, tingkat penyakit pernapasan melonjak akibat badai debu beracun dari dasar danau yang kering.

3. Ekonomi lokal kolaps, dan hingga kini wilayah itu jadi salah satu contoh kegagalan perencanaan terpusat terbesar di dunia.

*Fakta Global Lain:*

1. *Kuba:* Sistem sosialisme menekan swasta dan perdagangan bebas. Hasilnya, rakyat sulit mengakses barang kebutuhan pokok, antrian panjang untuk makanan jadi pemandangan sehari-hari.

2. *Korea Utara:* SDA dan produksi pangan dikontrol penuh negara → rakyat banyak yang kelaparan, sementara sumber daya diprioritaskan untuk militer.

*Fakta di Indonesia:*

Walau Indonesia bukan negara sosialis murni, kita pernah mencoba pendekatan ala sosialisme di masa awal kemerdekaan—semua sektor strategis dipegang negara.

1. Era 1960-an: *Banyak BUMN* berdiri, tapi karena manajemen buruk & politisasi, justru *bikin inefisiensi*. Hasilnya: inflasi pernah tembus 650% pada 1966, rakyat kesulitan kebutuhan pokok.

2. Banyak *BUMN rugi* meski pegang SDA strategis, karena *salah kelola dan korupsi.*

*Intinya…*

*_Sosialisme itu seperti orang tua yang nggak kasih kesempatan anak-anaknya berkembang,_* semua diatur sesuai maunya sendiri. Kalau keputusannya tepat mungkin aman, tapi begitu salah—satu keluarga langsung terpuruk bareng.

*Di level negara, sistem ini bikin rakyat:*

1. Kurang mandiri,

2. Kreativitas mati,

3. Dan kalau pemerintah salah langkah, efeknya fatal untuk semua.

*Islam Kaffah: Sistem Adil, Sejahtera, dan Lestari*

Kalau kapitalisme itu kayak orang tua yang nggak peduli dan sosialisme itu kayak orang tua yang ngatur semua sampai bikin anak nggak bisa berkembang, *Islam kaffah itu seperti orang tua yang adil, bijak, dan sayang sama semua anaknya.*

Analogi keluarga dalam konteks ini:

1. Anak boleh punya harta pribadi (hasil kerja halal) → *hak milik pribadi* diakui.

2. Ada harta yang dipakai bersama (sumur, listrik, ladang keluarga) → *milik umum*.

3. Ada harta yang diatur langsung oleh orang tua untuk kepentingan bersama (misalnya rumah, peralatan besar) → *milik negara.*

Semua diatur dengan aturan jelas, ada yang boleh dimiliki pribadi, ada yang wajib bersama, dan semua keputusan dibuat demi kemaslahatan, bukan demi gengsi atau keuntungan segelintir orang.

*Dalil & Prinsip Islam Soal SDA*

Hadis Nabi ﷺ:

> “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api (energi).” (HR. Abu Dawud)

➡️ Artinya SDA strategis seperti energi, air, hutan, tambang besar adalah milik publik.

QS. Al-Hasyr: 7:

> “… supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

➡️ Distribusi kekayaan harus adil, tidak boleh menumpuk di segelintir orang.

*Fikih Kepemilikan:*

Ulama seperti Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan pembagian kepemilikan:

*1️⃣ Milik pribadi* – bebas dikelola selama halal.

*2️⃣ Milik umum* – hasilnya untuk rakyat.

*3️⃣ Milik negara* – dikelola untuk kemaslahatan.

Mekanisme Ekonomi Islam dalam Mengelola SDA

*1️⃣ SDA strategis tak boleh dikuasai swasta atau asing.* Minyak, gas, tambang besar, hutan → dikelola negara untuk rakyat.

*2️⃣ Hasilnya untuk layanan publik.* Pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan dasar bisa gratis atau sangat murah karena dibiayai dari SDA.

*3️⃣ Larangan eksploitasi berlebihan.* Tidak boleh merusak alam atau mengorbankan lingkungan demi keuntungan sesaat.

*4️⃣ Distribusi adil antarwilayah.* Daerah kaya SDA membantu daerah miskin SDA, semua merasakan manfaat.

*Bukti Empiris Keberhasilan Ekonomi Islam*

*1️⃣ Masa Khalifah Umar bin Khattab (634–644 M).* Pengelolaan tanah pertanian subur di Irak & Syam. Saat wilayah baru dibebaskan, Umar tidak membagi tanah itu ke tentara (seperti praktik Romawi/Persia), tapi menetapkannya sebagai milik umum yang hasilnya masuk baitul mal.

➡️ Hasil pertanian digunakan untuk membiayai:

1. Gaji tentara

2. Pemeliharaan janda & yatim

3. Pembangunan infrastruktur publik

4. Kebijakan ini menghindari monopoli tanah oleh segelintir orang, memastikan rakyat tetap punya akses.

*2️⃣ Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717–720 M)* Pengelolaan tambang & zakat; Umar bin Abdul Aziz mengelola hasil tambang dan lahan produktif negara untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat. Zakat melimpah hingga tidak ada lagi yang mau menerima. Bahkan utang rakyat dibayar oleh negara dari hasil kekayaan milik umum. *Hasil kekayaan alam dipakai untuk membiayai pendidikan, membebaskan budak, dan membangun infrastruktur air.*

*3️⃣ Masa Kekhilafahan Abbasiyah (abad 8–13 M)* Pengelolaan irigasi dan pertanian di Mesopotamia. Sungai Tigris dan Eufrat diatur dengan sistem bendungan & kanal yang rapi, dibiayai oleh negara dari hasil pajak tanah & SDA. *Produksi pangan melimpah → Baghdad jadi pusat perdagangan dunia.* Infrastruktur air dijaga ketat, sehingga masyarakat bebas dari krisis air bersih.

*4️⃣ Masa Kekhilafahan Utsmaniyah (Ottoman).* Pengelolaan hutan & tambang; Hutan besar di Balkan dan Anatolia dikelola sebagai milik publik, hasil kayunya untuk pembangunan masjid, sekolah, jembatan, dan kapal perang. Tambang garam dan mineral menjadi pemasukan besar negara tanpa pajak mencekik rakyat. *Petani diberi hak kelola tanah dengan syarat menjaga produktivitas & kelestariannya.*

*Kesimpulan*

1. *Kapitalisme gagal:* rakyat tersingkir, alam rusak.

2. *Sosialisme gagal:* rakyat tercekik, inovasi mati.

3. *Islam kaffah berhasil:* rakyat makmur, alam terjaga, distribusi adil.

*_Sudah waktunya kita kembali ke syariat Islam kaffah — bukan sekadar keyakinan, tapi sistem hidup yang sudah terbukti sukses sepanjang sejarah_.*

📢 Bagikan tulisan ini ke keluarga dan teman, biar makin banyak yang sadar kita butuh aturan Allah untuk mengatur negeri ini.

🌿 Ingin terus disapa dengan pesan yang menguatkan hati? Gabung di Channel WhatsApp kami:

📲 Klik di sini → https://whatsapp.com/channel/0029VazVyJOH5JM83LxjUo0r

*Asupan harian untuk:*

💡 Inspirasi jiwa

📖 Cahaya ruhani

📈 Dakwah ekonomi & muamalah Islam kaffah

📌 Ikuti juga:

🔗 *Instagram:* instagram.com/aliakbaralbuthoni

🌱 Ajak satu orang saja… karena satu hati yang tersentuh, bisa jadi sebab pahala yang tak terputus. Aamiin…

> _”Kadang Allah mengambil sesuatu, bukan untuk mengurangi hidupmu… tapi untuk mengosongkan ruang agar Dia bisa mengisinya dengan yang lebih baik.”_

InsyaAllah.