
KAPITALISME: PERTUMBUHAN SEGELINTIR ELITE vs ISLAM: KEADILAN UNTUK SELURUH UMAT, PILIH MANA⁉️
Kapitalisme ibarat ladang subur yang hanya boleh digarap oleh segelintir orang yang punya modal besar. Mereka bebas menanam, memanen, bahkan menentukan harga jualnya. Sementara rakyat kecil? Hanya jadi buruh tani yang dibayar seadanya, atau bahkan cuma jadi penonton di pinggir pagar.
Di sistem ini, *pertumbuhan ekonomi* selalu menjadi kata kunci. Angka-angka di papan statistik naik, tapi *siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan itu?* Sebagian besar hasilnya kembali lagi ke kantong para pemilik modal. Di sinilah kesenjangan makin lebar, dan jurang kaya-miskin makin dalam.
Islam memandang berbeda. Bagi Islam, kekayaan itu bukan hanya angka di laporan keuangan, tapi amanah dari Allah yang harus dikelola dengan adil. Prinsipnya sederhana: *yang kaya tidak boleh menindas, yang miskin tidak boleh terabaikan*. Karena itu, Islam menekankan *distribusi kekayaan* yang merata, tanpa menghilangkan semangat usaha dan kepemilikan pribadi yang halal. Ada mekanisme zakat, infaq, wakaf, larangan riba, larangan monopoli—semuanya bukan sekadar aturan, tapi pagar yang menjaga agar harta tidak hanya berputar di lingkaran elite.
🔍 *BEDANYA JELAS:*
* *Kapitalisme:* Menumpuk di atas, menetes sedikit ke bawah.
* *Islam:* Mengalir dari pusat ke seluruh penjuru, hingga tidak ada lagi yang terpinggirkan.
💬 *SEKARANG, COBA KITA RENUNGKAN…**
Kalau sistem Islam ini kita terapkan di negeri yang Allah limpahi emas, minyak, gas, dan tanah subur seperti Indonesia, berapa banyak masalah kemiskinan yang akan hilang?
*PERTANYAAN UNTUKMU:*
Menurut kamu, *bagian mana dari sistem ekonomi Islam* yang paling mendesak untuk diterapkan duluan?
*Tulis pendapatmu di kolom komentar, atau kalau di grup WA/Telegram—balas pesan ini ya!* insyaAllah vote terbanyak akan jadi salah satu bahasan kita berikutnya.
📢 Jangan lupa sebarkan tulisan ini, biar semakin banyak saudara kita yang sadar bahwa solusi itu sebenarnya sudah Allah turunkan… tinggal kita mau kembali atau tidak.








