
BOLEH DULU, HARAM BELAKANGAN ? – PERBEDAAN MENDASAR ANTARA KAIDAH ‘AL-ASHLU FIL MU‘AMALAH AL-IBAHAH’ & ‘AL-ASHLU FIL AF‘AL AT-TAQAYYUDU BI ḤUKMI ASY-SYAR‘I
Disusun oleh:
ALI AKBAR AL-BUTHONI
DISCLAIMER
Tulisan ini merupakan *kajian akademik fiqih muamalah* berdasarkan metodologi istinbāṭ Imam Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah dalam kitab *Asy-Syakhṣiyyah al-Islāmiyyah* dan *An-Niẓām al-Iqtiṣādī fil Islām*. Tujuannya bukan sekadar menyoal perbedaan kaidah, tapi *mengajak umat memahami akar kesalahan berpikir yang membuat banyak aktivitas ekonomi jadi kabur batas halalnya.*
PENDAHULUAN: DUA KAIDAH YANG KERAP DIPERTENTANGKAN
Banyak orang ketika bicara muamalah akan bilang:
> “Hukum asal muamalah itu boleh, selama tidak ada dalil yang melarang.”
Mereka bersandar pada kaidah populer:
> *Al-ashlu fil mu‘āmalah al-ibāhah | Asal hukum dalam muamalah adalah boleh.*
Sementara di sisi lain, para ulama yang lebih hati-hati (terutama dari kalangan Hizb ut-Tahrir) menggunakan kaidah:
> *Al-ashlu fil af‘āl at-taqayyudu bi ḥukmi asy-syar‘ | Asal setiap perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara’.*
Sekilas keduanya terlihat mirip, bahkan sebagian orang berkata: *“Dua-duanya benar, hanya beda sudut pandang.”* Namun di sinilah letak *KESALAHAN FATAL BERPIKIR* yang harus diluruskan. Karena *MEMBENARKAN DUA KAIDAH INI SEKALIGUUS BERARTI MENGABURKAN BATAS HALAL-HARAM AMAL MANUSIA.*
1️⃣ KAIDAH PERTAMA: “AL-ASDHLU FIL MU‘AMALAH AL-IBAHAH
Kaidah ini berasal dari istinbāṭ sebagian fuqaha klasik yang melihat bahwa **muamalah bersifat duniawi (ghairu ta‘abbudiyyah)**, maka hukumnya boleh kecuali ada dalil yang melarang.
Dalil yang sering dijadikan landasan antara lain:
> *“Dia-lah Allah yang menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi.”* (QS. Al-Baqarah: 29)
Dari ayat ini, mereka menyimpulkan: segala hal yang bermanfaat pada asalnya boleh. Namun, pemahaman ini *tidak bisa diterapkan secara mutlak untuk semua aktivitas manusia.* Sebab ayat tersebut berbicara tentang *ciptaan Allah*, bukan *perbuatan manusia.* Imam Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam *Asy-Syakhṣiyyah al-Islāmiyyah* (Juz I, hlm. 182):
إن الأصل في أفعال الإنسان التقيّد بالحكم الشرعي، فلا يُقاس على الأشياء
*“Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara’, bukan seperti hukum benda-benda ciptaan Allah.”*
Maka ayat “hal-hal di bumi halal” tidak bisa dijadikan pembenaran untuk *bebas berbuat apa saja dalam muamalah* tanpa meneliti dulu hukumnya.
2️⃣ KAIDAH KEDUA: AL-ASHLU FIL AF‘AL AT-TAQAYYUDU BI ḤUKMI ASY-SYAR’I‘
Kaidah ini menegaskan bahwa setiap perbuatan manusia — termasuk muamalah, bisnis, investasi, bahkan akad jual beli — *harus punya hukum syar’i yang jelas* sebelum dilakukan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya:
> *“Tidak patut bagi seorang mukmin laki-laki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan lain dalam urusan mereka.”* (QS. Al-Ahzab: 36)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ
> *“Barang siapa melakukan suatu amal tanpa dasar perintah kami, maka amal itu tertolak.”* (HR. Muslim)
Artinya, *setiap aktivitas harus tunduk pada hukum syara’ lebih dulu* — bukan dilakukan dulu baru dicari pembenarannya.
3️⃣ PERBEDAAN AKAR LOGIKA: IBAHAH UMUM Vs TAKAYYUD SYAR’I
Kaidah *al-ibāhah* menempatkan manusia *sebagai subjek bebas* — boleh berbuat apapun asal tidak ada larangan. Ini cenderung mirip dengan *logika kapitalisme*, di mana kebebasan adalah asas. Kaidah *at-taqayyud* menempatkan manusia *sebagai hamba Allah* — semua perbuatannya harus punya izin dari syara’. Ini adalah logika Islam kaffah. Maka dua kaidah ini *TIDAK MUNGKIN SAMA-SAMA BENAR.* Yang satu menjadikan manusia sebagai “pencipta hukum” (karena bebas sebelum dilarang), yang satu llagi menjadikan syariah sebagai *satu-satunya sumber hukum.* jadi sangat jelas bedanya dan makna serta konsekuensinya pun jelas berbeda.
4️⃣ ANALOGI SEDERHANANYA
Bayangkan seseorang ingin *masuk rumah orang lain.* Kalau ia memakai logika “asal boleh”, maka ia akan masuk dulu — selama belum ada yang mengusir. Tapi kalau ia memakai logika “terikat izin”, maka ia *tidak akan melangkah sebelum diizinkan pemilik rumah.* Begitu jelas bedanya. Dalam Islam, *kita bukan pemilik kehidupan ini.* Kita hanya hamba yang harus menunggu izin Allah atas setiap langkah.
> *“Apakah kalian lebih tahu, ataukah Allah?”* (QS. Al-Baqarah: 140)
*5️⃣BAHAYA BESAR SALAH MEMILIH KAIDAH*
Kaidah *“al-ashlu fil muamalah al-ibahah”* yang dipahami bebas telah menjadi *celah berbahaya dalam ekonomi Islam kontemporer.* Dari sini lahirlah pembenaran atas:
* Skema MLM dan Multi akad,
* Bisnis jaringan bertarget omzet,
* Paylater berbunga,
* Trading spekulatif,
* Bahkan kripto “halal” hanya karena “belum ada dalil haram”.
Padahal, semua itu jelas mengandung unsur riba, gharar, multi akad dan maisir. Allah sudah memperingatkan:
> *“Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”* (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Rasulullah ﷺ bersabda:
> يأتي على الناس زمان لا يبالي المرء بما أخذ المال أمن الحلال أم من الحرام
> *“Akan datang masa di mana manusia tidak peduli dari mana ia memperoleh harta, dari yang halal atau haram.”* (HR. Bukhari)
Itulah bahaya *menjadikan hawa nafsu sebagai standar berpikir dalam muamalah.*
6️⃣ KAIDAH YANG BENAR MENURUT ISLAM KAFFAH
Imam Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dalam *Asy-Syakhṣiyyah al-Islāmiyyah* (Juz I, hlm. 183):
> كل فعل من أفعال الإنسان يجب أن يكون له حكم شرعي يستند إلى دليل شرعي
> *“Setiap perbuatan manusia harus memiliki hukum syar’i yang bersandar pada dalil syar’i.”*
Maka yang benar bukan “asal boleh sebelum dilarang”, tapi “setiap perbuatan harus ada dalil pembolehnya.” Inilah yang membedakan umat yang beramal karena iman dengan umat yang beramal karena tren.
KESIMPULAN
* Kaidah “al-ashlu fil muamalah al-ibahah” bukan kaidah yang bisa dipakai bebas tanpa batas.
* Kaidah yang benar dan aman adalah “al-ashlu fil af‘al at-taqayyudu bi hukmi asy-syar‘.”
* Menganggap dua-duanya benar berarti membuka ruang bagi relativisme hukum yang merusak kemurnian syariah.
Ingatlah, Allah mencintai orang yang berhati-hati dalam muamalah, bukan yang mencari-cari celah untuk membolehkan segala hal.
> *“Barang siapa menjauhkan diri dari syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.”* (HR. Bukhari Muslim)
*PENUTUP*
Saudaraku, hidup di zaman sistem kapitalistik membuat kita sering terjebak pada pola berpikir “asal tidak dilarang berarti boleh.” Padahal, Islam mengajarkan: *yang boleh hanyalah yang diizinkan Allah.* Maka, jika kita ingin bisnis dan amal kita benar-benar berkah, jangan mulai dari “boleh atau tidak”, tapi mulailah dari “apa hukum Allah terhadap ini?” Karena ketaatan itu bukan membatasi kebebasan, tapi menjaga keberkahan.
> *“Barang siapa tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar.”* (QS. Al-Ahzab: 71)
_Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb_








