
Oleh: Ali Akbar Al-Buthoni | Konsultan Ekonomi & Bisnis Syariah | Pegiat Hijrah Peradaban
Pendahuluan
Pernahkah Anda merasa bahwa meskipun Anda telah bekerja lebih keras, mengambil lembur, dan melakukan efisiensi keuangan, daya beli Anda justru terasa semakin menyusut? Anda tidak sendirian. Di awal tahun 2026 ini, narasi “kerja keras pasti sukses” semakin sulit dibuktikan di lapangan.
Masalahnya bukan pada etos kerja Anda. Masalahnya terletak pada “aturan main” yang kita tinggali. Kita sedang berada dalam sebuah sistem ekonomi yang secara struktural sedang bergerak menuju titik jenuh—atau yang saya sebut sebagai titik nadir.
Melalui artikel ini, saya ingin mengajak Anda membedah data dan fakta di balik kerapuhan ekonomi global hari ini. Mengapa kita butuh “Reset” dan bagaimana kita harus bersikap?
1. Ilusi Uang Fiat: Pencurian Nilai Melalui Inflasi
Sejarah mencatat bahwa sejak 15 Agustus 1971, dunia resmi meninggalkan Standar Emas melalui kebijakan “Nixon Shock”. Sejak saat itu, uang yang kita pegang hanyalah fiat money—kertas yang tidak dijamin oleh aset nyata apapun selain janji pemerintah.
Tanpa adanya “jangkar” aset riil, bank sentral memiliki kekuatan untuk mencetak uang dari ketiadaan (money creation from thin air). Akibatnya? Jumlah uang beredar meningkat drastis, mengencerkan nilai uang yang sudah ada di tangan rakyat. Inilah inflasi. Berdasarkan data dari U.S. Bureau of Labor Statistics, daya beli mata uang terus merosot tajam. Kita dipaksa menabung “kertas” yang nilainya terus membusuk, sementara harga aset riil seperti tanah dan emas melambung tak terkejar.
2. Gelembung Hutang Global yang Mustahil Lunas
Ekonomi modern hari ini digerakkan oleh hutang, bukan oleh pertumbuhan riil. Menurut laporan dari Institute of International Finance (IIF), total hutang global telah menembus rekor di angka $307 Triliun. Angka ini setara dengan 336% dari total PDB global.
Secara matematika sederhana, hutang ini mustahil untuk dilunasi. Dunia sedang meminjam dari kemakmuran masa depan untuk membiayai gaya hidup hari ini. Kita sedang berjalan di atas gelembung spekulasi yang sangat besar. Pertanyaannya bukan lagi “apakah akan pecah?”, melainkan “kapan gelembung ini akan meletus?”
3. Finansialisasi: Saat Spekulasi Membunuh Sektor Riil
Kita menyaksikan sebuah fenomena yang disebut “Finansialisasi”. Uang lebih banyak berputar di pasar uang (forex), pasar saham, dan instrumen spekulatif lainnya daripada di sektor produktif seperti pertanian atau manufaktur.
Data dari Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa volume transaksi harian di pasar valuta asing mencapai $7,5 Triliun per hari. Angka ini jauh melampaui total nilai perdagangan barang dan jasa dunia secara nyata. Ketika uang lebih menguntungkan untuk “diperanakkan” melalui spekulasi dan riba daripada digunakan untuk memproduksi manfaat, maka krisis pangan dan energi hanyalah konsekuensi logis yang tinggal menunggu waktu.
4. Kegagalan Distribusi: Rakyat Membayar, Korporasi Menguasai
Terdapat ironi besar dalam distribusi kekayaan hari ini. Di satu sisi, rakyat dibebani dengan berbagai jenis pajak pada hampir setiap jengkal aktivitas ekonominya—mulai dari pajak penghasilan hingga pajak konsumsi. Namun di sisi lain, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang seharusnya merupakan kepemilikan umum justru diserahkan pengelolaannya secara eksklusif kepada korporasi besar.
Ketimpangan ini tervalidasi oleh laporan World Inequality Report, di mana 1% orang terkaya di dunia menguasai hampir separuh kekayaan global. Ini bukan sekadar masalah kemiskinan, tapi masalah ketidakadilan distribusi yang bersifat sistemik.
5. Sistem Bunga (Riba) sebagai Kerapuhan Struktural
Poin terakhir yang menjadi akar dari segala kerapuhan ini adalah penggunaan sistem bunga atau riba. Bunga menciptakan beban tetap (fixed cost) yang harus dibayar oleh pengusaha, tanpa peduli apakah bisnisnya sedang untung atau rugi. Sistem ini memaksa terjadinya pertumbuhan ekonomi yang eksponensial dalam dunia yang sumber dayanya terbatas.
Sistem bunga juga menjadi alasan mengapa uang hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, menghalangi akses modal bagi mereka yang memiliki ide brilian namun tidak memiliki jaminan (collateral).
Langkah Selanjutnya: Hijrah Peradaban
Melihat kelima data di atas, kita harus menyadari bahwa memperbaiki sistem yang rusak dari dalam mungkin tidak lagi cukup. Kita butuh alternatif sistemik.
Dalam perspektif Ekonomi Islam Kaffah, solusi yang ditawarkan sangat jelas dan teknis:
- Kembali ke Mata Uang Berbasis Aset Riil (Emas dan Perak) untuk menghentikan inflasi permanen.
- Menghapus Sistem Riba dan menggantinya dengan skema Syirkah (Bagi Hasil) agar modal mengalir ke sektor produktif.
- Mengelola SDA sebagai Kepemilikan Umum sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh rakyat untuk layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur gratis.
Hijrah Peradaban bukan sekadar jargon. Ia adalah kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan masa depan ekonomi kita. Langkah awal dimulai dari satu hal: Melek Sistem.
Saya Ali Akbar Buton, mari kita bangun kedaulatan ekonomi dengan akal sehat dan prinsip yang kuat.
Bagikan pendapat Anda di kolom komentar: Menurut Anda, mana dari kelima poin di atas yang paling terasa dampaknya dalam kehidupan Anda saat ini?








